UsaBersyariah.Com --- Beredarnya kabar pergantian nama hotel Alexis menjadi 4Play menjadi pembicaraan hangat beberapa hari ini. Menurut Senator DKI Jakarta Fahira Idris, pada prinsipnya, mau seribu kali ganti brand sekalipun, manajemen Alexis dilarang mengoperasionalkan hotel dan griya pijat (spa) karena izin nya sudah tidak ada lagi. Jikapun 4Play ini adalah sub usaha yang lain (karaoke dan live musik) dan izinnya memang sudah ada, tetap saja warga Jakarta akan mengawasi tindak-tanduk Alexis.


“Jika nanti 4play yang katanya merupakan tempat karaoke dan live musik ada indikasi pelanggaran hukum nasibnya akan sama dengan hotel dan griya pijat yaitu ditutup permanen. Kami warga Jakarta akan awasi tindak tanduk manajemen Alexis dan segera melapor, baik ke Pemprov DKI Jakarta maupun ke kepolisian jika ada indikasi pelanggaran hukum baik di tempat karaoke maupun live musik ini,” ujar Fahira Idris melalui pernyataan tertulisnya kepada Suara Islam Online, Selasa (28/11).

Fahira mengungkapkan, peringatan ini bukan hanya untuk Alexis tetapi untuk semua pengusaha hotel, spa, karaoke, club, diskotik dan jenis usaha hiburan malam lainnya di Jakarta. Fahira juga meminta kepada jajaran Pemerintah DKI Jakarta untuk memastikan bahwa 4Play ini bukan kamuflase untuk kembali mengoperasikan aktivitas hotel dan spa mereka. Tidak boleh ada lagi kompromi bagi hotel dan tempat hiburan malam di Jakarta yang melakukan pelanggaran hukum, praktik asusila ataupun yang menjadi tempat transaksi dan memakai narkoba.

“Selama usaha anda berizin, tidak melakukan pelanggaran hukum terutama narkoba dan asusila, usaha Anda akan baik-baik saja. Tetapi jika melakukan pelanggaran, maka tidak ada ampun, izin usaha anda akan dicabut,” tegas Ketua Komite III DPD RI ini.

Ke depan, sambung Fahira, Jakarta harus menjadi kota beradab dengan menghilangkan segala bentuk kegiatan yang menyimpang dari peraturan daerah. Kota yang tidak kompromis terhadap praktik yang tak sesuai dengan perda terlebih asusila dan narkoba.

“Sebagai ibu kota, kota terbesar, dan pusat segala aktivitas mulai dari ekonomi, politik, dan budaya, Jakarta sudah seharusnya role model kota lain di Indonesia. Jakarta harus bisa menjadi rujukan bagi kota lain dalam penataan dan pembangunannya. Dan saya yakin Anies-Sandi punya komitmen mewujudkan itu,” pungkasnya.[suaraislam]

UsaBersyariah.Com --- Meski sampai saat ini belum masuk Islam, ayahnya Ustadz Felix Siauw mendukung dakwah mualaf tersebut.

“Anda lihat di foto, tepat di sebelah saya yang bertopi adalah ayah saya, yang harusnya secara akidah bertentangan, harusnya dia yang paling tersinggung dengan isi kajian saya. Andai saya seperti yang dituduhkan, bahwa saya radikal, memecah belah, takkan mau beliau duduk di samping saya, berfoto bersama, mungkin bahkan mengusir saya,” ungkapnya dalam status berjudul Musuh Berakal dan Kawan Jahil, Jum’at (24/11) di fanpage Facebook Ustadz Felix Siauw



Ia menyebut Ustadz Somad pernah memberitahu, bahwa musuh yang berakal lebih baik daripada kawan yang jahil. Dan nyatanya itu benar adanya, sesuai dengan kenyataannya. Karena kadang yang bukan Muslim bisa lebih toleransi daripada Muslim yang gembar-gembor toleransi.

“Ayah saya alhamdulilah masih menerima saya dengan tangan terbuka. Yang di belakang itu, semua karyawan ayah saya, dikumpulkan selama tiga hari untuk diberikan tausiyah, disampaikan kajian pada mereka, beliau fasilitasi kajian bukan membubarkan,” ujarnya.

Padahal ayahnya Felix bukan Muslim, tapi memfasilitasi dakwahnya, sampai-sampai diguyoni oleh teman gerejanya “Pak Iwan penyandang dana teroris”, tapi dia nyaman-nyaman saja.

Felix keliling Nusantara, disambut dengan akhlak yang baik dan ramah oleh umat. Hanya sekarang sedang diuji dengan beberapa kelompok yang intoleran atas nama toleransi.

“Ayah saya belumlah Muslim, dia tonton semua video saya, dia fasilitasi dakwah saya, sebab dia berakal, melihat kebaikan dari dakwah, kebenaran Islam walau belum mengikuti jalan itu. Sementara teman yang harusnya membimbing, mengawani dalam Islam, justru yang banyak menentang, menuduh, memprovokasi, Allah Karim, ini tugas yang cukup berat,” bebernya.[] Joko Prasetyo


Menyikapi masa kepemimpinan Jokowi-JK yang sudah berjalan tepat 3 tahun pada Jumat 20 Oktober 2017 ini, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) mendesak pemerintah untuk serius dalam menyelesaikan sejumlah persoalan yang terjadi.

Ketua Umum PP KAMMI Kartika Nur Rakhman menilai, dalam 3 tahun ini pemerintahan Jokowi-JK gagal memenuhi janji kampanye, terutama dalam Penegakan Hukum dan Perbaikan ekonomi masyarakat.

“Hari ini Ekonomi lesu dan Penegakan hukum jalan di tempat. Pemerintah terlalu berpatokan pada data makro, sementara kondisi riil menunjukkan daya beli masyarakat yang terus menurun. Begitu juga dalam penegakan Hukum, kasus-kasus korupsi besar menemui jalan buntu penyelesaiannya,” ujar Nurakhman dalam keterangan tertulisnya, Jumat (20/10).

Senada dengan itu, Ketua Kebijakan PP KAMMI Riko P. Tanjung menilai Pemerintah telah gagal menjalankan nawacitanya. “Kenaikan tarif dasar listrik beberapa kali dan pembangunan yang berfokus pada infrastruktur telah mengakibatkan konsumsi dan daya beli masyarakat menurun,” tegas Riko.

Selain itu, menurut Riko, reformasi hukum di era Jokowi tidak berjalan dengan baik. Ini bisa dilihat dari penyelesaian kasus-kasus besar yang belum tuntas. “Banyak kasus-kasus besar di era Jokowi yang masih jalan di tempat seperti BLBI, Sumber Waras, Proyek Reklamasi dan E-KTP,” terangnya.

“Oleh karena itu, kita mendesak pemerintahan Jokowi-JK untuk segera menyelesaikan problem yang ada karena menyangkut hajat hidup seluruh rakyat Indonesia,” tandas Riko.
[ suaraislam ]
Powered by Blogger.